Berdasarkan IHK BI, Provinsi Lampung Mengalami Inflasi 0,61% “Cabai Merah Pacu Inflasi Periode Lebaran”

429
foto (ist)

Bandar Lampung, lampungkita.id Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada Juni 2019 mengalami inflasi sebesar 0,61% month to month (mtm). Inflasi tersebut dipicu oleh kenaikan harga kelompok bahan makanan, terutama cabai merah saat menjelang lebaran. Namun, nilai tersebut tergolong tinggi dibanding laju inflasi Nasional sebesar 0,55% mtm.

Dibandingkan dengan bulan lalu, IHK Lampung dapat mencapai sebesar 0,76% mtm dan juga di bawah rata-rata historis inflasi Juni, serta dalam lima tahun terakhir sebesar 0,72% mtm. Dilihat dari sumbernya, inflasi di periode lebaran ini dipicu oleh kenaikan harga kelompok bahan makanan yang disebabkan terbatasnya pasokan saat tingginya permintaan.

Secara spasial, dibandingkan 82 kota perhitungan inflasi nasional, inflasi kota Bandar Lampung dan Kota Metro di bulan Juni tergolong moderat dan masing-masing menempati urutan ke-29 dan 41. Sejalan dengan hal tersebut, inflasi gabungan Provinsi Lampung berada di bawah inflasi Sumatera sebesar 0,93% mtm.

Namun demikian, secara tahunan inflasi Provinsi Lampung mencapai 2,76% year on year (yoy), atau masih relatif terkendali dibandingkan inflasi Sumatera dan Nasional, masing-masing sebesar 3,64% yoy dan 3,27% yoy. Sebagaimana bulan sebelumnya, inflasi yang terjadi di bulan Juni 2019 didorong oleh meningkatnya tekanan harga pada kelompok bahan makanan 2,30% mtm.

Komoditas cabai merah memberikan andil inflasi bahan makanan terbesar yaitu 0,52%, diikuti komoditas jeruk, jengkol dan ayam hidup, dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,04%. Permintaan yang masih tinggi di periode lebaran di tengah persediaan stok yang berkurang mendorong peningkatan harga komoditas dimaksud.

Peningkatan harga cabai merah misalnya, terpantau pada Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia Provinsi Lampung bulan Juni 2019, harga cabai merah besar meningkat 39,69% mtm menjadi rata-rata Rp53.991, sementara harga cabai merah keriting meningkat 84,96% mtm menjadi rata-rata Rp45.959.

Meski demikian, inflasi yang lebih tinggi pada kelompok bahan makanan tertahan oleh deflasi yang terjadi pada sebagian komoditas yang di bulan sebelumnya masih mengalami inflasi. Diantaranya bawang putih, daging dan telur ayam ras, dengan andil masing-masing sebesar -0,16%, -0,06% dan -0,02%.

Harga bawang putih tercatat mengalami koreksi cukup dalam seiring dengan masuknya pasokan impor sebagai respon kebijakan pemerintah dalam mengatasi keterbatasan suplai dari domestik pada bulan-bulan sebelumnya telah memacu kenaikan harga yang cukup signifikan.

Sementara itu, peningkatan pasokan pada daging dan telur ayam ras mendorong deflasi pada komoditas dimaksud. Pada komoditas bawang merah, deflasi berlanjut dengan andil di bulan Juni sebesar -0,03%, sejalan dengan panen yang terjadi pada beberapa sentra termasuk di Lampung Timur. Selain pada sebagian kelompok bahan makanan, deflasi juga terjadi kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar -0,24% mtm. Hal ini khususnya disebabkan oleh normalisasi tarif angkutan antar kota pasca berakhirnya tuslah selama periode lebaran 2019.

Berkaca pada pencapaian inflasi bulanan Provinsi Lampung di bulan Juni 2019 yang
masih relatif tinggi, KPw Bank Indonesia Provinsi Lampung memandang risiko kenaikan tekanan inflasi khususnya yang bersumber dari gejolak harga pangan perlu terus diantisipasi.

Pertama, risiko kenaikan tekanan inflasi yang bersumber dari pergerakan harga
komoditas pangan, terutama cabai merah yang di sebagian sentra diantaranya di Lampung Selatan terindikasi mengalami serangan hama dan wereng. Kondisi ini tercermin pada laju inflasi komoditas yang berada pada level tinggi sejak awal hingga akhir bulan Juni 2019.

Kondisi ini juga didorong oleh rendahnya harga cabai merah di awal tahun 2019 yang diindikasikan dapat berdampak pada pengurangan luas tanam komoditas tersebut. Sehingga, hal tersebut akan berpengaruh pada ketersediaan pasokan ke depan.

Kedua, seiring dengan perkiraan berakhirnya periode panen raya padi di bulan Mei, risiko kenaikan harga komoditas tersebut meningkat meski cadangan BULOG (Badan Urusan Logistik) terpantau masih cukup memadai.

Pantauan harga beras dari BPS (Badan Pusat Statistik) Provinsi Lampung telah mencatat adanya inflasi komoditas beras pada Minggu terakhir Juni 2019, sejalan dengan pasokan yang mulai berkurang. Adapun second round effect (efek putaran kedua) dari kenaikan harga kelompok bahan makanan yang terpantau juga terjadi di bulan Juni 2019, khususnya pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau.

Ketiga, disamping risiko inflasi dari gejolak harga pangan, risiko kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) non-subsidi pada bulan-bulan mendatang tetap perlu diwaspadai seiring berlanjutnya tren kenaikan harga minyak dunia pada triwulan II 2019 bersamaanya dengan efektifnya pemotongan produksi OPEC+.

Dalam rangka mengantisipasi risiko tekanan inflasi yang masih cukup besar kedepan, diperlukan langkah-langkah pengendalian inflasi yang konkrit terutama untuk menjaga inflasi yang tetap rendah dan stabil, yakni : Pertama, TPID, Satgas Pangan dan pihak terkait perlu melakukan berbagai upaya untuk memastikan kecukupan pasokan dan keterjangkauan bahan makanan khususnya hortikultura yang harganya rentan bergejolak.

Hal ini dapat dilakukan antara lain melalui pemetaan area tanam dan panen serta penataan pola distribusi dan akses sarana simpan (cold storage) dalam jumlah besar, di samping itu, intensifikasi gerakan tanaman cabai perlu diaktifkan kembali, khususnya untuk mengantisipasi periode permintaan tinggi di akhir tahun.

Kedua, terus memastikan kelancaran kegiatan Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) oleh BULOG serta perumusan pemanfaatan stok beras BULOG untuk program bansos melalui sinergi penjualan dengan e-warong. Hal ini mengingat kebijakan bansos yang mulai Semester II tidak mengharuskan penggunaan beras BULOG sehingga terdapat risiko tidak tersalurnya stok di gudang.

Ketiga, meminimalkan dampak inflasi yang disebabkan oleh kemungkinan kenaikan harga BBM, diantaranya dengan menjaga kelancaran distribusi dan kecukupan pasokan BBM terutama di jalur utama angkutan penumpang dan barang, disamping terus melakukan koordinasi dengan aparat keamanan untuk mengantisipasi kelangkaan pasokan akibat penimbunan.(*)