Lampung Menempati Posisi Kedua Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi Se-Sumatra

65
Direktur BI provinsi Lampung Budiharto Setyawan (foto istimewa)

Bandar Lampung, lampungkita.id – Ekonomi Lampung pada triwulan II 2019 tumbuh kuat yakni sebesar 5,62% (yoy), melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi di periode yang sama selama tiga tahun terakhir, maupun pertumbuhan ekonomi Sumatra (4,62%, yoy) dan Nasional (5,05%, yoy). Pencapaian ini menjadikan Lampung menempati posisi kedua pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera, setelah Sumatera Selatan (5,80%, yoy).

Sesuai dengan pola musimannya, pertumbuhan ekonomi di periode laporan tercatat lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2019 sebesar 5,21% (yoy). Di sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan II 2019 ditopang oleh konsumsi dan investasi. Selain itu, perbaikan ekspor juga mendorong ekonomi Lampung tumbuh kuat, meskipun masih belum mampu mengimbangi impor yang tumbuh lebih tinggi.

Di sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi Lampung ditopang oleh sektor sekunder dan tersier. Kinerja sektor sekunder tumbuh signifikan sejalan dengan lapangan usaha industri pengolahan yang mampu tumbuh dua digit 11,46% (yoy). Di samping itu, sektor tersier juga menjadi penopang pertumbuhan, khususnya lapangan usaha pengadaan listrik dan gas yang tumbuh signifikan sebesar 16,26% (yoy).

INFLASI

Tekanan inflasi Provinsi Lampung di bulan Agustus 2019 terpantau mereda menjadi sebesar 0,17% (mtm) dibandingkan capaian bulan sebelumnya (0,66%;mtm), meski lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata historisnya selama lima tahun terakhir sebesar 0,13% (mtm). Jika dilihat secara kumulatif, Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung di bulan Agustus 2019 telah mencapai 3,16% (ytd), di atas pencapaian inflasi nasional sebesar 2,48% (ytd) khususnya disebabkan oleh kenaikan harga kelompok bahan makanan. Kenaikan harga komoditas bawang putih dan bawang merah menjadi salah satu faktor pendorong inflasi sampai dengan awal triwulan II 2019.

Sementara itu, faktor pendorong utama inflasi sampai dengan awal triwulan III 2019 bersumber dari kenaikan harga cabai yang juga terjadi secara nasional. Rendahnya harga cabai di awal tahun menjadikan petani enggan menanam komoditas tersebut di Lampung dan beralih menanam komoditas lain sehingga terjadi penurunan pasokan cabai mulai dari pertengahan tahun 2019. Sejak bulan Mei sampai dengan Agustus 2019, cabai merah konsisten menjadi penyumbang inflasi terbesar di Provinsi Lampung dengan total andil sebesar 1,71%. Andil inflasi ini terpantau lebih tinggi jika dibandingkan dengan sebagian besar provinsi lain di Indonesia, mengingat Lampung merupakan salah satu sentra cabai merah, sehingga terdapat margin harga yang tinggi.

Meski demikian, sampai dengan pertengahan September 2019, hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) Bank Indonesia menunjukkan mulai terjadinya normalisasi harga komoditas hortikultura sehingga menjadi downward risk inflasi sampai dengan akhir tahun 2019. Meski demikian, masih tedapat beberapa risiko inflasi sampai dengan akhir tahun 2019 yang perlu diwaspadai. Hal tersebut berasal dari inflasi komoditas beras yang secara seasonal meningkat sampai dengan akhir tahun 2019, mengingat hasil panen gadu yang tidak sebesar panen puncak.

Di samping itu, risiko tekanan inflasi dari kenaikan biaya pendidikan yang dapat diikuti oleh kenaikan harga seragam, sepatu dan peralatan sekolah lainnya juga perlu diwaspadai. Inflasi pendidikan yang berlangsung pada bulan Agustus baru tercatat di Kota Metro, sehingga masih terdapat risiko inflasi pendidikan di Kota Bandar Lampung.

Dalam rangka mengantisipasi risiko tekanan inflasi yang masih cukup besar ke depan, diperlukan langkah-langkah pengendalian inflasi yang konkrit terutama untuk menjaga inflasi yang tetap rendah dan stabil, yakni: pengendalian harga secara intensif oleh TPID Provinsi Lampung, Satgas Pangan serta pihak terkait dalam rangka menjaga ketersediaan pasokan serta keterjangkauan harga.

Di samping itu, diperlukan kerja sama TPID dan BULOG dalam memastikan ketersediaan cadangan beras serta keterjangkauan harga komoditas tersebut di pasar melalui langkah KPSH (Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga). Pemantauan informasi harga secara rutin dapat dilaksanakan melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), sehingga menjadi acuan langkah stabilisasi harga ke depan oleh pemerintah maupun TPID Kabupaten/Kota. 

PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN

Stabilitas sistem keuangan Provinsi Lampung relatif terjaga dengan risiko kredit perbankan yang terindikasi stabil. Pertumbuhan aset perbankan pada triwulan II 2019 terpantau relatif solid (7,26%;yoy) meningkat diatas periode sebelumnya (4,91%;yoy). Sejalan dengan hal tersebut, pertumbuhan penyaluran kredit perbankan (lokasi bank) di triwulan II tercatat tumbuh sebesar 5,44% (yoy), relatif membaik dibanding periode sebelumnya (5,20%;yoy). Peningkatan pertumbuhan ekonomi secara musiman yang dipengaruhi oleh tingginya konsumsi pada periode Ramadhan dan Idul Fitri diindikasikan menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan kredit di triwulan II 2019, khususnya kredit konsumsi (8,76%;yoy).

Adapun pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada triwulan II 2019 terpantau relatif solid dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 8,95% (yoy). Meski demikian, sejalan dengan peningkatan pola konsumsi masyarakat di periode Ramadhan dan Idul Fitri, pertumbuhan tabungan terpantau relatif melambat (7,86%;yoy) dibandingkan periode sebelumnya (8,48%;yoy). Sebagai infomasi, seiring dengan indikasi pelonggaran kebijakan moneter pada pertengahan tahun 2019, suku bunga tertimbang deposito selama triwulan II 2019 tercatat turun 4 bps menjadi 6,34%, dan pada Agustus 2019 telah turun 6 bps seiring penurunan suku bunga acuan (BI7DRRR) sebesar masing-masing 25 bps per bulan sejak Juli 2019.

Sementara itu, pada triwulan III 2019, pertumbuhan penyaluran kredit perbankan (berdasarkan lokasi bank s.d. Juli’19) tercatat tumbuh sebesar 5,65% (yoy), relatif solid dan lebih tinggi dibanding periode sebelumnya (5,44%;yoy). Peningkatan penyaluran pada kredit modal kerja sebesar 5,48% (yoy), sejalan dengan perkiraan tumbuhnya kinerja industri pengolahan di Provinsi Lampung. Di sisi sektoral, pertumbuhan pada pembiayaan sektor perdagangan terpantau meningkat (4,93%;yoy) didorong perkiraan solidnya penjualan di triwulan III 2019.

Sementara itu, sejalan dengan harga komoditas yang masih relatif rendah, penyaluran kredit sektor pertanian (5,20%;yoy) tercatat melambat dibandingkan triwulan II 2019. Meski demikian, pertumbuhan DPK per Juli tercatat sebesar 7,52% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya (8,95%;yoy). Perlambatan pertumbuhan simpanan berjangka (9,32%;yoy) dibandingkan periode sebelumnya (14,19%;yoy) menjadi salah satu penahan pertumbuhan seiring dengan penurunan suku bunga deposito.

Selanjutnya di sisi sistem pembayaran, sesuai dengan pola historisnya pada periode Ramadhan dan Idul Fitri 2019 pada triwulan II 2019, kondisi net outflow sebesar Rp1,08 triliun terjadi di wilayah Provinsi Lampung. Sejalan dengan hal tersebut, transaksi pembayaran non tunai melalui SKNBI mengalami peningkatan seiring dengan pola musiman, sementara RTGS di Provinsi Lampung cenderung mengalami perlambatan. Di samping itu, jumlah Uang Elektronik (Unik) di wilayah Provinsi Lampung mengalami peningkatan signifikan menjadi 435.473 dari 83.103 pada triwulan sebelumnya seiring dengan penerapan tol berbayar pada tanggal 17 Mei 2019 dan juga periode mudik 2019 yang meningkatkan volume kendaraan melalui tol. Ke depan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung terus berkoordinasi dengan pihak terkait dengan melakukan edukasi dan kampanye untuk mendukung Gerakan Nasional Non Tunai.

III. PROSPEK PEREKONOMIAN TRIWULAN III, IV 2019 DAN KESELURUHAN TAHUN 2019

PERTUMBUHAN EKONOMI
Memasuki triwulan III 2019, pertumbuhan ekonomi Lampung diperkirakan tetap tumbuh tinggi dengan kisaran 5,1%-5,5% (yoy) dengan potensi bias ke bawah, lebih rendah dibandingkan capaian periode sebelumnya. Di sisi permintaan, konsumsi swasta diperkirakan masih menjadi pendorong utama pertumbuhan, meskipun tidak sekuat periode sebelumnya yang ditopang faktor musiman perayaan hari besar keagamaan.

Pendorong pertumbuhan lainnya diperkirakan bersumber dari peningkatan investasi seiring meningkatnya kepastian usaha dari sudut pandang investor pasca Pilpres dan pelantikan Pimpinan Daerah Lampung yang baru. Di samping itu, perbaikan net ekspor yang didukung kenaikan produksi perkebunan diperkirakan turut menopang pertumbuhan ekonomi Lampung meskipun harga komoditas utama ekspor seperti CPO dan kopi diprakirakan masih berada pada level yang rendah. Secara sektoral, siklus produksi optimal komoditas perkebunan seperti kopi, lada, tebu dan nanas memasuki musim kemarau diperkirakan menjadi penopang kinerja sektor pertanian, sektor perdagangan, serta sektor transportasi dan pergudangan.

Lebih lanjut pada triwulan IV 2019, pertumbuhan ekonomi Lampung diperkirakan tetap tumbuh tinggi dengan kisaran 5,2%-5,6% (yoy) dengan potensi bias ke atas hingga beberapa basis poin dari capaian triwulan sebelumnya. Konsumsi swasta diperkirakan masih menjadi pendorong utama pertumbuhan, ditopang faktor musiman perayaan hari besar keagamaan dan menjelang tahun baru.

Pendorong pertumbuhan lainnya diperkirakan bersumber dari meningkatnya kinerja sektor perdagangan besar-eceran dan penyedia akomodasi makanan dan minuman ditengah peningkatan permintaan menjelang Natal dan tahun baru. Meski demikian, telah berlalunya siklus produksi optimal komoditas perkebunan seperti kopi, tebu dan nanas memasuki musim akhir kemarau diperkirakan menjadi faktor yang sedikit menghambat kinerja sektor pertanian, juga sektor industri pengolahan serta transportasi dan pergudangan.

Secara keseluruhan tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Lampung diperkirakan akan tumbuh lebih baik dibanding tahun 2018 dengan dukungan yang cukup solid dari konsumsi swasta dan investasi. Sedangkan secara sektoral, pertumbuhan ekonomi Lampung diperkirakan akan bertumpu pada dua sektor utamanya yakni industri pengolahan dan perdagangan. Sektor konstruksi diperkirakan masih tumbuh kuat meski lajunya relatif moderat dibandingkan dengan tahun 2018 seiring dengan telah selesainya sebagian PSN infrastruktur di Lampung.

INFLASI

Dari sisi perkembangan harga, prospek inflasi di masing-masing triwulan dan keseluruhan tahun 2019 diperkirakan akan tetap terkendali pada kisaran 3,5%±1% (yoy), meski dengan kecenderungan lebih tinggi dari nilai tengah 3,5% di akhir tahun 2019. Pada triwulan III 2019 bertepatan dengan telah berlalunya faktor musiman Ramadhan dan hari Raya Idul Fitri, inflasi diperkirakan cenderung lebih rendah dibandingkan triwulan II. Secara historis, penurunan tekanan inflasi terutama didorong oleh kelompok volatile food, antara lain karena masuknya periode panen bawang merah dan meningkatnya produksi komoditas hortikultura lainnya seperti tomat sayur dan cabai merah di musim kering. Meski demikian, risiko inflasi masih bersumber dari kenaikan biaya sekolah serta perkembangan harga minyak dunia yang cenderung meningkat pada akhir triwulan III 2019. (rilis)