Lapas Kelas I Bandar Lampung Pasok Tempe ke Sejumlah Rumah Makan

Bandar Lampung, lampungkita.id Produksi tempe yang dikelola warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Bandar Lampung terus berkembang dan kini menjadi pemasok bagi sejumlah rumah makan di Kota Bandar Lampung.

Kepala Bidang Kegiatan Kerja Lapas Kelas I Bandar Lampung, Medi Oktafiansyah, mengatakan produksi tempe merupakan salah satu program pembinaan kemandirian yang memberikan keterampilan sekaligus pengalaman kerja bagi warga binaan.

“Setiap hari kami mengolah sekitar 17 kilogram kedelai untuk produksi tempe. Bahan baku yang digunakan adalah kedelai impor karena kualitasnya dinilai lebih baik dan menghasilkan tempe yang lebih premium,” kata Medi saat ditemui di area kegiatan kerja Lapas Kelas I Bandar Lampung, Sabtu 13 Juni 2026.

Ia menjelaskan proses produksi dilakukan secara bertahap mulai dari pencucian, perebusan, hingga fermentasi sebelum tempe siap dipasarkan. Dari 17 kilogram kedelai yang diolah setiap hari, warga binaan mampu menghasilkan lima ukuran tempe yang berbeda sesuai kebutuhan pasar.

Menurut Medi, hasil produksi tempe tersebut telah memiliki pelanggan tetap. Setiap hari, tempe produksi Lapas Kelas I Bandar Lampung dikirim ke sejumlah rumah makan dan usaha kuliner di Bandar Lampung, di antaranya Seruwit Bu Isah, Pempek Yeni, dan Uduk Bu Sri. Sementara untuk Sambal Alu cabang Pramuka dan Sultan Agung, pengiriman dilakukan pada hari-hari tertentu.

“Alhamdulillah pemasaran sudah berjalan rutin. Ada beberapa pelanggan yang menerima pasokan setiap hari, sehingga produksi tempe terus berjalan,” ujarnya.

Tempe yang diproduksi dipasarkan dalam berbagai ukuran dengan harga mulai dari Rp800 hingga Rp5.000 per bungkus. Meski telah memiliki pasar yang cukup stabil, produk tersebut hingga kini belum memiliki merek dagang khusus.

Medi mengatakan pihaknya masih fokus pada peningkatan kualitas produksi dan pembinaan warga binaan. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menghasilkan produk yang bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran keterampilan yang dapat dimanfaatkan warga binaan setelah kembali ke masyarakat.

“Tujuan utamanya tetap pembinaan. Mereka belajar proses produksi, menjaga kualitas, hingga memahami bagaimana produk bisa diterima pasar. Ini menjadi bekal keterampilan yang bisa digunakan setelah selesai menjalani masa pidana,” katanya.

Program produksi tempe menjadi salah satu unit usaha produktif yang dikembangkan Lapas Kelas I Bandar Lampung untuk mendukung pembinaan kemandirian warga binaan sekaligus memberikan pengalaman kerja secara langsung melalui kegiatan yang berorientasi pada kebutuhan pasar. (*)